Masih Menunggu, 22 – September 2011.


Hari ini terhitung hari kedua tengelamnya Perahu kecil yang mengangkut keluarga saya dari Jungut batu ke nusa penida, kabar yang masih seperti kemarin “bapak dan ibu saya belum bisa diketemukan”, sang surya sudah muali meninggi, saya masih mencari informasi di pelabuhan dan hasilnya masih nihil. Di jam 11 saya harus nyebrang ke jungut batu tempat bapak saya dan masyarakat naik jungut batu untuk “Ngulapin” yang artinya memangil secara tidak terlihat, semisal masih hidup, cepatlah pulang, semisal sudah tak bernyawa cepatlah mengapung dan di temukan, sanak sodara keluarga dan masyarakat menunggu mu di rumah.

Jam 12 saya balik dari jungutbatu ke nusa penida dengan keadaan air laut dan angin yang lumayan kenceng. Sampai dirumah saya tetap tegar, makan ngobrol tanpa air mata berusaha saya lakukan.

Hari ini ratusan media bermunculan menanyakan kronologis kejadian, tepat jam 4 proses mengubur masal dilakukan di kuburan Desa sebunibus, 9 Mayat di kubur beriringan seperti pawai budaya tahunan, tangis histeris terus menerus berdatangan “inikah keadilan tuhan?”. Saya masih di rumah menyendiri, tidak mau bergabung dengan mereka “takut terbawa emosi”. Sampai tiba malam hari, kunjungan Polisi untuk mencari identifikasi korban, saya menjelaskan cirri-ciri ibu dan bapak saya “saya kurang begitu tahu jelas cirri-ciri mereka, hanya secara umum aja yang bisa saya kasih ke para petugas.”

Adik, kakak, dan keluargasaya masih terlihat sedih “2 hari menangis matanya sampai mau buta!”. Okey mari kita save energy buat besok “1 paman dan ponakan saya harus di bakar pada hari minggu besok” mempertsiapkan sarana upacara dan upakara. Dalam hari saya masih hancur “merusaha menghibur diri dengan mebanten, dan menyalahakn kemenyan supaya asap itu bisa mereda amarah saya”. Well sudah malam, saya tidur dulu. See di next topic in my Journey yow.

0 comments:

Posting Komentar

 

Copyright © 2010 • It's My Journey of Photography // Bali Wedding Photography • Design by Dzignine