Nelunin , 28 – September 2011.

0 comments

Arwwwww sudah berlalu 1 minggu tragedy ini, tepat tiga hari berlalu upacara ngaben yang membuat desa leteh “tidak suci” saaatnya saya dan keluarga melalukan upacara mecaru yang bertujuan untuk menyucikan semua daerah, pura, pekarangan rumah dan batin. Pagi pun berlalu mari bersiap dengan pembuka sarapan alakadarnya mie instan buatan chef nenek.
Start di mulai dari rumah tua kakek dan berlanjut ke 4 rumah paman tercinta, lanjut mkan siang dan menuju pura dalem, marjapati dan penutup pura puseh. Ada yang kurang extra kurang, yang biasa saya lakukan semua ini bersama bapak, ibu, paman dan kini saya hanya berjalan dengan kaki sendiri di temani keluarga dekat. U super hebat guys. Kau membantu anak yang tak punya orang tua ini sampai proses selesai. Akan kah aku bisa balas budi mu ini.?. siang menunggu sore dan saya harus kembali ke denpasar karena besok saya harus beraktifitas kembali sebelum menungu 8 hari dari sekarang atau 12 hari sari upacara ngaben minggu kemarin “ngerorasin /12 hari”. Dan masih banyak rentetan upacara di belakang ini. Abdiku padamu bapak dan ibu akan ku jalani semua proses ini sampai kau di terima di sisinya. *elus dada. See di next topic in my Journey yow.




read more

Indonesia, Bali, Nusa Penida Menangis.

0 comments
  
 
Ini kali ya kejutan yang kalian buat, 2002 adik kandung kalian harus naas karena tabrakan sehabis mengajar tabuh, dan kini kalian harus ikut hal yang sama naas kecelakaan laut sehabis pulang dari ngayah. Kenapa harus karena musik kalian hilang. Sekarang anak anak mu suka musik haruskah akan mengalami hal yang sama?.
Kalian gembarkan nusa penida, semua kalian datangkan dari kejadian ini, Bupati, Gurbenur, DPR -D, DPD, sampai DPR-RI meneteskan airmata, hanya saja presiden aja yang tak bisa datang. Satu sisi kita sekeluarga bersedih, di lain sisi kami bangga dengan kalian, sampai segitunya bisa mendatangkan orang besar. Apakah ini pamer kematian kalian semua? Mau nunjukin kalau kalian wah. *angkat topi buat paman tercinta.
Sunguh aneh tapi nyata. Bapak dan ibu lahir dengan tangal yang sama, bulan yang sama hanya saja waktu dan tahun yang berbeda. Harus kembali tidur di waktu yang sama, tangal bulan sampai tahun sama. Ini kali yang namanya cinta mati. Mungkin sang bapak berjanji sehidup semati dengan ibu hingga kalian harus berbaring bersamaaan. 3 kali kejadian sama, kalian bisa selamat dan kali ke 3 ini kalian harus OFF.






read more

Hell Yeach, 26 – September 2011

0 comments

Gilak baru saya rasakan begini sepinya dunia tanpa kehadiran meraka, sepertinya ini akan berlan jut di hari-hari berikutnya, semoga cepat normal perasaan ini. Biasa pagi ada yang bangunin dan menyiapkan makanan dan kini sudah hilang, bangun buat mie sendiri, “tenang masih ada nenek yang setia membuat keperluan. *peluk nenek.
Waktu berjalan sangat lambat seperti bekicot hell yeachh come on harry up. Sambil merangkai kata saya selangi untuk melihat foto kenangan, foto kemarin dan memikirkan *apakah besok saya bisa lebih tetang dari hari ini?.
Semua teman yang sempat SMS atau CALL, maff saya tidak bisa bales atau respond, masih ada di hutan, di luar jangkuan, belum lagi tak ada waktu untuk itu. Di sisi lain kalian beri saya support habis habisan, di sisi lain saya harus menangis membaca semangat kalian, sampai sekarang saya masih belum percaya kalau ini terjadi. Big thanks dari saya * topi saya angkat. Makasi kawan, teman dan sahabat . See di next topic in my Journey yow.

read more

Api, Air dan Udara , 25 – September 2011.

0 comments

Tiga komponen pokok ini siapa yang bisa melawan “kebakaran dasyat akan menghabiskan, tsunami asik akan meluluk lantakan, Puting beliung akan menerbangkan bumi” semua bencana di atur oleh pemerintahan yang kuasa beserta jajaranya. Kita mau apa? So kalau ini memang harus dalam kasar omongan mereka harus resign kita mau apa, kasih aja lah “penghiburan diri tingkat dewa”. Kompor dengan api yang super asik membakar jenasah dalam hitungan waktu 1 jam dan sudah menjadi abu, sisanya menyatu dengan tanah. Prosesi demi prosesi berlanjut sesuai adat bali, sampai akhirnya membuang abu itu ke laut supaya menyatu dengan air. Seperti biasa komunitas duka lagi berkuasa seperti raja. Saya tetap santé dengan kamera pemberian sang bapak. Sudah ya saya mau pulang makan dulu lanjut istrahat tidur. See di next topic in my Journey yow.


read more

Histeris Tingkat Dewa , 25 – September 2011.

0 comments

Kukuruyuk.. yeach pagi sudah datang, hari ini harus di laksanakan ngaben di keluarga besar Pande, baik yang masih hilang maupun 2 jenasah yang sudah di ketemukan akan tetap di upacaraain. Suara genta , manatram dan bau asap dupa membius semua warga masyarakat yang ikut membantu jalannya upacara pada waktu 2 jenasah paman saya di keluarkan dari kamar menuju halaman rumah untuk proses pemandian mayat. Lagi lagi air mata bertaburan di terik matahari yang menyengat, well saya harus ikut memegang terakhir paman tercinta.
Di sisi salin 4 jenasah yang belum di ketemukan di simboliskan dengan daun ilalalang berbentuk orang-orangan dengan bertuliskan nama masing-masing dan gambaran “rerajaahan”  sepertinya mengambil jiwanya untuk ada di symbol itu “macam jailangkung”. Di perlakukan sama seperti mayat beneran, di mandiin, di sisir, kasih kaca, kasih kulit, dan lengkap sampai di kasih uang saku.
Nada angklung berirama dengan tangis keluarga, lagi lagi saya harus menahan dalam-dalam air mata ini “sialan nangis mulu ne”,  sampai akhirnya waktu menunjukan jam 12 dan kebetulan sudah well done, mari kita berkempanye menuju kuburan “setra” untuk melakukan proses pembakaran, ngaben “crematioan”.
Saya sesekali menoleh kebelakang dan melihat ratusan orang dengan wajah kurang jelas, ada yang mata merah karena iritasi ringan, ada air mata bebas keluar karena keran yang bocor dan juga yang hanya bengong seperti kesetrum listrik. Tapi ini beneran terjadi di hari ini. See di next topic in my Journey yow.


 



read more

Hari ke 4 – 24 September 2011

0 comments
Bangun de makan “itu biasa saya dengar dari ibu saya kalau saya lagi di kampung” dan sekarang sudah sirnah :( . nenek saya mencoba menghibur dengan hal yang sama, dan mari isi perut dulu sebelum lanjut membuat perangkat upakara. Pagi menunggu siang, siang menunggu sore dan waktu berjalan serasa begitu cepat, tamu bermunculan dari berbagai arah “sabar ya nak” kata itu justru yang membuat saya mengeluargan air mata. Teman-teman dari Ayodya sudah berani mengarungi lautan biru untuk melayat ke tanah kelahiran saya, dan masih banyak tamu yang justru saya belu tahu “mungkin teman bapak atau ibu”, terus dan terus detik berlalu sampai akhirnya sore, pengantian ES TUBE jenasah paman tercinta dilakukan, kembali airmata dua anak kandungnya keluar dari pintu kanan dan kiri mata mereka “lagi lagi itu yang membuat saya sedih”, okey kalaian berhak memangis please don’t continue!.

Tiba saatnya sore menunggu malam saya dan sodara-sodara saya mekemit di rumah tua kakek bersama 2 jenasah yang sudah terbaring di kamar sebelah tibur. Dingin super asik sampai setiap jam harus bangun, maklum Cuma tidur di atas kramik beralaskan karton. Nenek saya dapat tugas stay di rumah saya bersama teman yang sudah kayak bapak saya si jagoan Putu Budi Krista. Big thanks tu. See di next topic in my Journey yow.
read more

Hari ke 3 “23 – September 2011”

0 comments

Kembali sang pagi dengn kokok ayam rada-rada malu menyambut, update sedikit berita “hamper semua stasiun TV menjadikan tragedy ini headlane, terpukul lagi mendengar belum ada kabar sama sekali” matikan TV, beralih ke lain sisi karena masih banyak pekerjaaan untuk proses pembakaran minggu besok, 2 layon/mayat sudah berbaring tenang di kamar tua warisan kakek, sambil menunggu 3 sodaranya yang masih belum di ketemukan termasuk bapak dan ibu kandung saya.

Ke rumah tua bantu-bantu membuat perlengkapan upakara, mengambar, mengukir, menempel yang kelak akan di angkat dan di bakar di kuburan, sampai sore harinya masih belum ada kabar kedua orang tua  beserta paman saya. Sore jam 5 saya harus kembali ke Jungut batu matur Pakelom bersama pemangku dari klungkung, dan sesudah saya sudah siap untuk berangkat ternyata tidak dikasih lansung dari keturunan yang berangkat, harus ada yang mewakili, dan ia pun berangkat sampai malam hari, rombongan yang mau matur pakelom itupun tak berani balik malam, dan dia menginap semalam samopai matahari terbit ke esokan harinya baru kembali ke nusa penida.

Saya bersama-adik-adik tidur di rumah tua bersama 2 mayat yang sudah bersih, menikmati dingin dan batuk cukup asik well sampai pagi tidur setengah-setengah, energy mulai berkurang. Semoga hari ini jenasah bapak, ibu, beserta paman-paman saya bisa ditemukan. See di next topic in my Journey yow.



read more

TIM m ESaR e , 22 – September 2011.

0 comments
Hari ketiga pencarin korban, ternyata TIM m ESaR e “tim mesare” yang hanya bisa dengak dengok di atas kapal “hay tim diving dong, siapa tahu nyangkut di dasar  laut, sisir to nusa penida dari barat ke timur jangan di lokasi aja *pikiran amarah dan emosi”

Hari ini kesibukan membuat perlengkapan untuk upacara, kakek saya dibantu beberapa muridnya untuk membuat rerajahan dan bibik saya yang salah satu seorang serati ikut mengerahkan muritnya untuk membantu mempercepat jalanyan. Saya masih menunggu kedua orang tua saya. Hanya nenek saya yang bisa menghibur dengan wajah santainya. See di next topic in my Journey yow.
read more

Masih Menunggu, 22 – September 2011.

0 comments

Hari ini terhitung hari kedua tengelamnya Perahu kecil yang mengangkut keluarga saya dari Jungut batu ke nusa penida, kabar yang masih seperti kemarin “bapak dan ibu saya belum bisa diketemukan”, sang surya sudah muali meninggi, saya masih mencari informasi di pelabuhan dan hasilnya masih nihil. Di jam 11 saya harus nyebrang ke jungut batu tempat bapak saya dan masyarakat naik jungut batu untuk “Ngulapin” yang artinya memangil secara tidak terlihat, semisal masih hidup, cepatlah pulang, semisal sudah tak bernyawa cepatlah mengapung dan di temukan, sanak sodara keluarga dan masyarakat menunggu mu di rumah.

Jam 12 saya balik dari jungutbatu ke nusa penida dengan keadaan air laut dan angin yang lumayan kenceng. Sampai dirumah saya tetap tegar, makan ngobrol tanpa air mata berusaha saya lakukan.

Hari ini ratusan media bermunculan menanyakan kronologis kejadian, tepat jam 4 proses mengubur masal dilakukan di kuburan Desa sebunibus, 9 Mayat di kubur beriringan seperti pawai budaya tahunan, tangis histeris terus menerus berdatangan “inikah keadilan tuhan?”. Saya masih di rumah menyendiri, tidak mau bergabung dengan mereka “takut terbawa emosi”. Sampai tiba malam hari, kunjungan Polisi untuk mencari identifikasi korban, saya menjelaskan cirri-ciri ibu dan bapak saya “saya kurang begitu tahu jelas cirri-ciri mereka, hanya secara umum aja yang bisa saya kasih ke para petugas.”

Adik, kakak, dan keluargasaya masih terlihat sedih “2 hari menangis matanya sampai mau buta!”. Okey mari kita save energy buat besok “1 paman dan ponakan saya harus di bakar pada hari minggu besok” mempertsiapkan sarana upacara dan upakara. Dalam hari saya masih hancur “merusaha menghibur diri dengan mebanten, dan menyalahakn kemenyan supaya asap itu bisa mereda amarah saya”. Well sudah malam, saya tidur dulu. See di next topic in my Journey yow.

read more

Duplikat 90% dari Ibu.

0 comments
 
31 Desember 1964 – 20 September 2011. Keluarga bilang aku itu adalah dupkikat ibu saya “I WAYAN MUSTI” kesamaan karakter dan kemiripan raut wajah itu ada, kalian bisa merasakan tidak sosok ibu itu seperti apa “ndk usah saya bahas ya”. Sayang banget dia sama saya, setiap saya pulang pasti di sambut “ehh saya pulang”. SD saya di kasih tangung jawab melihara 1 ekor sapi, samapi SMA saya mengisi sore hari dengan bertani, ibu bukan apa-apa, bukan anak sekolahan, bukan lulusan apa-apa, tapi satu hal yang saya bangga, kemampuannya membaca dan menghitung asik. Kayak kalkulator otak nya. Karena pedagang kali ya. Hanya bermodalkan mejadi si sekolah dan olahkan beras ia bisa menghidupi keluarga kecil saya. Dan bapak harus bertugas mengurus sekolah saya dan sang kakak. Senyumnya masih khas, setiap berhubungan telekomunikasi dia terus wanti-wanti “jaga kondisimu, belajar, jangan kelahi terus sama kakmu” terus menerus itu aja pesanya. Setelah saya berkerja saya bisa rasakan kebahagianya, sambil kuliah saya belajar merajut mental pekerja sampai akhirnya lulus dan bisa mendapat tempat. Beliau tersenyum.

Maff ibu anakmu ini belum bisa melakukan semua amanat mu, pilihan mu belum saya lakukan “nak bapak mu kan jadi guru, ayo lah kamu sekolah perguruan aja biar ada teman bapak mu di hari tua” saya harus mengelak ibu, saya pengen menjadi anak teknik, darah seni sudah kau wariskan saya bisa hidup dengn itu. Terpilihlah sekolah teknik dan berlalu 4 tahun. Maff lagi sekali ibu saya bellumlah apa-apa dari pada kerja keras kalian merawat saya, sampai kapan saya akan merindumu, Hay MOM save your SON here forever. I miss U so much and much. :) . See di next topic in my Journey yow.



read more

Pak Kumis

0 comments

31 Desember 1962 – 20 September 2011. “Bapak“ bisa kalian bayangkan? Siapa dia, apa peranya, apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan untuk melanjutkan amanatnya sebagai kepala keluarga. Sosok seorang bapak Kumis saya rasakan, beliau keras dan disiplin, teringat masa-masa masih duduk di sekolah Dasar dia pukul saya di depan kelas dengan pengaris, dia lempar kapur kemukak saya dan dia hampir menditak naek kelaskan anaknya ini. Dan saya baru nyadar waktu SMP, kalau SD saya memang super bodo “masak bapak guru anaknya blo on”, senyum amanat beliau masih saya ingat, sering marah-marah tapi uang ngalir terus buat anaknya ini “kaulah bapak ku”, sampai suatu saat saya harus merantau untuk menimba ilmu di seberang lautan, beliau berkata “”kamu mau jadi rantauan, mau sekolah apa, mau jadi apa, bisa ndk kamu, bapak siap tangung kamu dan kakamu *jadilah pelajar yang belajar, bukan pelajar yang arogan. Besar harapan bapak mempunyai anak yang sukses, bapak cukup punya gelar S1, dan bapak ingin sekali kalian bisa sekolah sampai  S3 dalamm hati saya “buikkkk S3 lengar cang toh”. Iya bapak, suatu saat anakmu ini akan jadi orang, bukan orang yang mau membuat kejadian. Berlalu 4 tahun waktunya saya wisuda “mana pacar mu tunjukan lah, sana potong kumis, jangot sama rambutmu itu, masak besok wisuda kayak buruh bangunan” okeyy. Pagi berlalu tanpa transportasi khusus seperti teman-teman yang lain saya cuss dengan si hitam pertama yang di beli waktu SMP“supra X lover” dan berlalu samapi jam 12, ayok pak foto bareng wisuda. Karena antrean panjang banget bapak harus kembali ke kampong karena ada hari raya besar dan ada tukang yang lagi berkerja di kampong, kasian nenek mu di rumha sendiri. Dammmm aku ndak punya foto wisuda bagus sama keluarga ku  :( .

Lulus kuliah dan bisa di terima berkerja sudah membuat dia bahagia, walau kamu tak kasih bapak sudah bahagian. Bapak akan segera membangun dan segera bisa membuat upacara potong gigi sama kakakmu. Hanya seorang guru SD dia membanguan segede ini, dalam hati saya “kapan hari kalau saya jadi bapak, bisa ndk ya kayak gini”. Dan hari ini 20 september di hari ulang tahun saya yang ke 23 saya di kasih hadiah “bapak kecelakaan dan belum di ketemukan”, hantaman keras telak ke dada saya. Dua tahun yang lalu anak mu ini menulis di blog kecil tentang NUSA PENIDA “suatu saat sebelum cahaya suci itu menjemput ku, satu hal yang aku inginkan, aku bisa membahagiakan orang tua” dan itu baru di mulai tahun ini tiba-tiba kau harus tidak ada lagi. Bapak Kadek merindu mu disini. Love u Pak Kumis. See di next topic in my Journey yow.


read more

Bad news | Hadiah Ulang Tahun ke-23

1 comments

Okey J. Ayo histeris tangis dan gumbalan air mata mari membatu menjadi udara. 20 September 2011. Ulangtahun saya yang ke 23 tahun. Bertepat 11.00 saya masih bisa tertawa bersama guru, teman dan kerabat yang selalu mengisi hari-hari saya. Nice moment guys, dalam satu sisi jam 12.00 Bapak, Ibu, 3 paman dan 18 masyarakat Sebunibus Nusa Penida mengalami kejadian yang super dan extra okey, kalian tahu apa? “Perahu kebalik di hantam ombak”. Sehabis ngayah harus berahir dengan enyah.

Saya baru bisa memejamkan mata jam 2 pagi dini hari, esok menjemput dengan mentari yang artinya “ayo apel bangun lekas mandi dan jalani hari ini dengan senyum abadi #kerja”. Okey bangun setengah mateng, dan tiba-tiba teman sebelah kos ngabarin “pel bapakmu ada dalam perahu yang tengelam di perairan Jungut Batu, saya jawab “masak sih? ya dek, ibu mu juga ikut,” masih belum percaya lho, “punya orang tua jarang berkabar kalau mau berpergian”. Mencoba mencari sumber informasi yang akurat, dan positif bapak, Ibu, dan paman berada dalam perahu itu “tarik nafas” kabarin teman dekat dan keluarga, aku, kakak, dan adik ku harus kembali hari ini, jangan dulu mikirin Bapak, Ibu selamat atau tidak, pokoknya pulang.

Dengan emosi yang menggebu, saya melakukan perjalanan 1 jam menuju bangunan baru rumah saya yang harus mandat karena president saya lagi belum ada kabar “semoga bapak dan ibu bisa selamat kalian presidet ku”. Sampai di rumah ratusan pasang mata mengeluarkan air, termasuk saya mulai Emosi hilang, menangis di pangkuan nenek saya yang setia merawat saya dulu, hanya tingal dia semata, kita berdoa menanti kepulangan keluarga yang kemarin malam melakukan perjalanan pulang dari Jungut Batu karena habis ngayah ngaben yang harus pilu dengan mempertaruhkan nyawa.

Paman saya tercinta Waya Muji, di kabarkan kandas sudah tak bernyawa sudah di larikan ke Puslkesmas dan 10 orang lainya bisa di ketemukan dengan tidak bernyawa, 4 orang pulang dengan kondisi masih kritis, saya masih hanya bisa menunggu, Bapak, Ibu, Made Ngaji, dan kakaknya Pak Putu Supradnya.

Banyak kabar berterbangan mengenai yang belum di temukan “saya sok tegar tanpa airmata” di Wantilan desa pakraman Sebunibus sambil mengabadikan gambar “bukan sok sokan” tujuannya hanya satu, kapan hari saya, kakak, dan adik-adik saya di percaya sama pacarnya untuk menikah, dan di anugrahi anak biar bisa saya ceritakan sama anak-anak saya, “ini lho kakek kalian, meningalnya dengan jalan seperti ini”. Oeky lah ngapai bahas yang belum belum.

Menangis histeris dan emosi sesaat terekam dalam durasi 12 jam-an, prosesi  dimulai, asap dan semangat mulai di rintis dengan duka yang menghantam. Saya apel masih tetap stay coll “semangat teman-teman yang bisa buat saya seperti ini’. Hari-hari saya akan seperti apa lagi ini, masih berduka, bahagia atau apa? Dia yang memberi saya sayang harus kembali tragis. LOSE MY BIG FAMILY ON 2011. See di next topic in my Journey yow.













read more
 

Copyright © 2010 • It's My Journey of Photography // Bali Wedding Photography • Design by Dzignine